Kultur Organisasi

At Google, we know that every employee has something important to say, and that every employee is integral to our success. We provide individually- tailored compensation packages that can be comprised of competitive salarky, bonus, and equity components, along with the opportunity to earn further financial bonuses and rewards. (Google website)

Hidup perlu keseimbangan adalah teori perilaku organisasi yang coba direalisasikan oleh Google. Google berpendapat bahwa tuntutan berkreasi yang harus dilakukan dalam hitungan menit hanya dapat dilakukan bila karyawan merasakan kenyamanan dalam bekerja. Rahasia mengapa Google terdiri dari orang-orang kreatif adalah bagaimana Google sangat fokus dalam proses hiring atau perekrutan karyawannya. Mereka berusaha untuk menemukan orang-orang yang tepat, yakni orang-orang yang sesuai dengan budaya Google bahkan ketika saat itu perusahaan Google belum jelas mendapat keuntungan yang dihasilkan. Google membangun sistem kerja yang unik untuk para karyawannya, di Googleplex sebutan untuk kantor pusat Google di Silicon Valey, California, suasana kerja diciptakan dengan menanggalkan kesan formal sehingga karyawannya menjadi lebih leluasa untuk berinovasi, berimprovisasi dan memberikan kesan para pimpinan bisa tetap dekat dengan karyawannya. Meski demikian nilai objektivitas tetap dikembangkan. Semboyan don’t be evil digunakan untuk menunjang nilai objektivitas dan kejujuran.

Read More →

Perkembangan HTML 5

Perkembangan Web semakin tidak dapat dipungkiri. Situs-situs baru dan inovatif yang diciptakan setiap hari, memperlebar batas-batas dari HTML ke segala arah. HTML 4 telah digunakan sekitar hampir satu dekade dari sekarang, dan pengembang terus mencari teknik baru untuk meningkatkan fungsionalitas yang terkendala oleh bahasa dan browser. Untuk memberikan lebih banyak fleksibilitas dan interoperabilitas bagi pengembang, dan memungkinkan website dan aplikasi lebih interaktif dan menarik, HTML 5 diperkenalkankan dengan meningkatkan berbagai fitur termasuk kontrol form, API, multimedia, struktur, dan semantik. Sejak tahun 2004 hingga saat ini dilakukan pengembangan bersama antara W3C HTML WG dan WHATWG . Banyak pemain kunci yang berpartisipasi dalam upaya W3C tersebut termasuk perwakilan dari empat vendor browser utama: Apple, Mozilla, Opera, dan Microsoft, dan berbagai organisasi lain dan individu dengan beragam kepentingan dan keahlian.

Berikut perjalanan panjang perkembangan HTML 5 hingga sekarang:

  • Pada tahun 1997, W3C mengumumkan tidak akan lagi memperpanjang HTML 4 dan melihat XML dan XHTML sebagai masa depan. Penanganan Kesalahan Draconian, (Draco adalah pemimpin Yunani yang diberi hukuman mati karena pelanggaran kecil), diinstruksikan bahwa browser adalah untuk memperlakukan semua kesalahan dalam XML sebagai sesuatu yang fatal. Dengan 99% dari halaman web menampilkan kesalahan kecil, dan kurangnya fitur-fitur baru dalam XML, banyak webmaster mengabaikan standar baru atau lanjutan untuk melayani situs Web mereka sebagai HTML, bahkan ketika mengadopsi XHTML.
  • Pada tahun 2004, sekelompok pengembang dan vendor browser termasuk Apple, Opera dan Mozilla memberikan presentasi kepada W3C pada perkembangan HTML 4 untuk menyertakan fitur baru untuk aplikasi web modern. W3C menolak proposal mereka memperluas HTML dan CSS. Mereka berniat memberontak perkembangan HTML4 dan memisahkan diri dari W3C, membentuk kelompok kerja mereka sendiri yang disebut WHATWG (Web Hypertext Applications Technology Working Group). Inti dari keyakinan WHATWG adalah kompatibilitas mundur dan mengampuni penanganan kesalahan. Visi WHATWG adalah untuk memperpanjang fitur HTML termasuk penanganan form sambil memastikan bahwa hal itu akan menurunkan keanggunan di browser lama. Sementara dunia W3C ingin pindah ke XML standar baru, WHATWG direncanakan untuk mengevolusi HTML yang ada untuk mendukung internet modern.
  • Pada tahun 2006, Tim Berners-Lee, pendiri W3C, mengakui bahwa para pemberontak di WHATWG telah mendapatkan momentum dan mengumumkan bahwa W3C akan bekerja sama dengan WHATWG untuk mengembangkan HTML. Kelompok Kerja W3C HTML dibentuk, bekerja dengan HTML dalam kaitannya dengan XHTML. HTML5 secara resmi lahir.
  • Pada bulan Oktober 2009, W3C menutup XHTML2 dan membuat HTML 5 Internet masa depan. Para perompak mengambil alih kapal!

(dikutip dari http://www.uprian.com/2010/06/mengenal-html5-web-masa-depan-internet.html)

Read More →

E-Learning merupakan sebuah proses pembelajaran yang berbasis elektronik. Salah satu media yang digunakan dalam model pembelajaran ini adalah jaringan komputer sehingga memungkinkan untuk dikembangkan dengan berbasis web yang kemudian dikembangkan lagi melalui akses internet yang juga disebut Internet Enabled Learning. Penyajian e-Learning berbasis web memungkinkan informasi perkuliahan menjadi real time dan bersifat interaktif. Dalam sistem e-Learning aktifitas perkuliahan ditawarkan untuk bisa melayani seperti perkuliahan biasa (Somantri 2004).

Standarisasi diperlukan untuk menjamin akuntabilitas konten pembelajaran yang digunakan pada e-Learning. Berdasarkan pengamatan dilapangan, banyak penyedia konten e-Learning tidak memperhatikan standarisasi pendistribusian konten e-Learning. Menurut Djuniadi (2006), model pembelajaran e-Learning harus memenuhi standarisasi sebagai berikut :

  1. Interoperability, yaitu sistem tidak mengalami data tidak ditemukan ketika digunakan.
  2. Reusability, yaitu sistem yang dibangun memiliki konten atau materi yang senantiasa dapat digunakan terus–menerus.
  3. Manageability, yaitu sistem yang dibangun mampu mengelola informasi tentang mahasiswa dan mata kuliah dengan baik. Data tersebut dapat ditelusur kembali dan didapatkan data yang benar.
  4. Accessibility, sistem yang dibangun mempunyai layanan akses yang diberikan kepada mahasiswa berperan dengan baik. Sehingga mahasiswa dapat memperoleh materi dengan benar dan dapat dilakukan sembarang waktu.
  5. Durability, sistem yang dibangun tidak mengalami keusangan atau dengan kata lain sistem tersebut senantiasa up to date.

SCORM (Shareble Content Object Reference Model) merupakan standarisasi pendistribusian konten e-Learning yang dikeluarkan oleh ADL (Advanced Distributed Learning). Standarisasi ini memungkinkan pertukaran objek pembelajaran antara LMS yang satu dengan yang lainnya, sehingga konten pembelajaran tersebut dapat digunakan terus menerus (reusability) dengan memperbaharui isi tanpa membuat dari awal lagi (Bohl 2002).

Read More →