Sektor pariwisata di Wonosobo tampaknya terus menggeliat, setelah golden sunrise bukit Sikunir yang sampai saat ini masih terus mejadi magnet bagi pecinta panorama alam. Saat ini, “Grand Canyon” milik Wonosobo sedang menjadi buah bibir di tengah masyarakat dan para pelancong. Malah ada yang membandingkan antara kawasan wisata Lobang Sewu tersebut dengan Grand Canyon di Colorado Amerika Serikat.

Terletak di desa Erorejo kecamatan Wadaslintang, Lobang Sewu dapat dijangkau dari pusat kota Wonosobo dengan lama perjalanan sekitar 15 jam. Sementara dari jalan utama desa Erorejo letaknya tak kurang dari 400 meter. Di lokasi yang masih dapat dijangkau dengan kendaraan umum ini juga terkenal dengan produksi ikan air tawar seperti nila dan patin.

Ada alasan kenapa kawasan wisata yang terbentuk secara alami disebut Lobang Sewu Erorejo? menurut penuturan warga, dulu kawasan waduk ini banyak sekali lobang yang hanya terlihat ketika air waduk surut. Lobang itu jumlahnya banyak sekali sehingga akhirnya disebut Lobang Sewu (*Lobang Seribu) yang diyakini sebagai salah satu penyebab adanya air di waduk, dan juga ketika air penuh, lubang tersebut menjadi rumah bagi ribuan ikan yang hidup disana.

Kombinasi batuan kapur yang terletak di sepanjang tepi waduk tersebut memiliki eksotisme yang lebih menarik, karena berpadu dengan pendar birunya warna air waduk. “Makin indah lagi ketika sore menjelang, dan matahari mulai beranjak ke peraduan, sunset-nya seperti kita berada di tepi pantai,” ungkap Ronald, 25, fotografer dari Kota Wonosobo.

Di kawasan wisata lobang sewu atau grand canyon-nya Wonosobo para pengunjung bisa mancing sepuasnya dengan menyewa getek atau perahu kecil untuk berkeliling waduk, bisa juga menikmati keindahan pulau di tengan waduk yang bernama desa Kumejing. Meskipun belum banyak juga pedagang makanan, namun fasilitas toilet umum dan gazebo juga sudah ada sehingga para pengunjung bisa leyeh-leyeh menikmati lezatnya  pepes ikan dan menikmati keindahan kawasan wisata Lobang Sewu Erorejo.

source: http://www.ikiwonosobomas.com/2015/09/bandingkan-grand-canyon-di-wonosobo.html

Baru saja membaca tulisan tentang dinamika dunia kerja. Beberapa rekan terutama yang sudah/pernah bekerja saya rasa juga pernah menemui hal-hal semacam ini, ya dinamika dalam dunia kerja yang saya pernah/sedang mengalami/melihatnya juga. Tapi saya kira pragmatis tidak hanya ditunjukkan ketika mengincar promosi jabatan tertentu saja, tapi bisa jadi untuk mendapatkan sesuatu. Sikut sana – sikut sini, menutup mata dengan rekan yang mungkin lebih membutuhkannya bisa jadi termasuk sebagai sikap pragmatis.

Monggo kita baca bersama tulisannya:

Sebuah pengalaman pribadi, yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Dunia kerja dengan segala dinamikanya, menyimpan beribu tantangan yang harus dilalui. Terkadang ada rasa khawatir, rasa tidak mampu hingga kesulitan beadaptasi dengan dunia yang betul-betul baru dan menuntut keahlian.
Bagi seorang fresh graduate seperti saya, mungkin juga dialami oleh teman-teman yang masih di bangku kuliah, dunia kerja hanyalah ada dalam angan-angan, bahkan masih diluar angan-angan. Bagi sebagian fresh graduate, mencari kerja adalah sebuah hal yang sulit, apalagi sudah memiliki penyakit pesimis, merasa tidak mampu bahkan ada yang merasa tidak berguna. Keadaan inilah yang membuat seorang fresh graduate rela bekerja apa saja, asal bisa menghidupi diri sendiri, tak kenal lagi akan idealism keilmuan atau latar belakang pendidikan. Sehingga tidak heran, seorang sarjana pertanian, kerja sebagai marketing, sarjana ekonomi menjadi tukang ojek dan lain-lain.
Dinamika dunia kerja, memang penuh dengan dinamika. Ada yang beruntung, ada pula yang buntung. Dunia kerja adalah dunia pragmatis, berbeda dengan dunia pendidikan yang mengajarkan bagaimana dunia seharusnya (idealis).
Lain lagi halnya jika seseorang sudah masuk dalam dunia kerja. Bekerja disebuah perusahaan misalnya, membutuhkan adaptasi (apalagi latar belakang pendidikan yang berbeda). Jika tantangan ini sudah dilalui, akan muncul tantangan lainnya, seperti promosi jabatan yang tidak pernah diharapkan sebelumnya. dulu sewaktu melamar jadi karyawan, hanya berharap untuk diterima, setelah diterima, berharap gaji dinaikkan, setelah gaji dinaikkan, berharap jabatan dinaikkan, dan seterusnya. Ini adalah satu potret bagaimana dunia kerja disebuah perusahaan.
Ini jelas menunjukkan bahwa dunia kerja adalah dunia yang pragmatis, dan sangat jarang terlihat idealism dalam dunia kerja. Idealisme apa yang bisa ditunjukkan dalam dunia kerja? Saya rasa sangat susah menyebutkannya. Bahkan demi promosi jabatan, seseorang rela sikut-menyikut dengan teman sejawat. Tanpa sikap pragmatis, seseorang sangat mustahil untuk sebuah promosi jabatan misalnya.
Dunia kerja adalah dunia yang real, sehingga tidak heran jika seseorang yang idealis dikampus misalnya, setelah memasuki dunia kerja, sikap idealism ini jarang dinampakkan, karena tuntutan pekerjaan dan karir. Apakah sikap idealisme betul-betul mati? Saya rasa tidak. Seorang yang betul-betul idealis akan tetap idealis, walaupun terkadang muncul sikap pragmatis pada masalah tertentu. Bahkan, seorang yang idealis mampu mensinkronkan fungsi pragmatis dan fungsi idealis. Jika fungsi prgamatis adalah untuk meraih  tantangan baru, maka idealis adalah cara untuk menyeimbangkannya.

Tulisan ini saya comot dari blog salah satu pengajar saya, Pak Lukito Edi Nugroho di http://lukito.staff.ugm.ac.id/2013/03/01/strukturisasi-skripsi-tesis-atau-disertasi-dalam-satu-diagram/ Tulisan yang ringkas namun komplit pakai banget mengenai Skripsi – Thesis atau Disertasi, monggo dinikmati:

Menulis skripsi, tesis, atau disertasi bukan hanya sekedar menyusun kalimat untuk membangun konten dari bagian-bagian naskah ilmiah tersebut. Yang tidak kalah pentingnya adalah menjamin keruntutan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Kelancaran “aliran” ide dan penjelasan inilah yang membuat naskah skripsi, tesis, dan disertasi menjadi enak dibaca.

Research-Stages2

1328529514Bapak Saya lahir di Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo, sebuah desa kecil yang asri dan sejuk di kakai pegunungan Dieng. Tepat di bawah Kampus UNSIQ Wonosobo (dulu namanya IIQ), mbah yang biasa kami panggil mbah miri (berasal dari Kemiri, nama dusun tempat tinggal mbah) tinggal. Maka sudah menjadi kewajiban bagi keluarga kami untuk berkunjung ke rumah mbah, setidaknya setiap hari lebaran. Kini mereka berdua (mbah kakung dan mbah uti) telah berada di pangkuanNya.

Dari desa kelahiran Bapak saya itu ada tokoh yang luar biasa, beliau KH Muntaha Al-Hafizh dan tiap lebaran pasti keluarga besar mbah saya bersilaturahmi ke pondok pesantren beliau. Kini beliau telah tiada, namun jejak dakwahnya masih terlihat dan semakin megah. Pondok Pesantren Al-Asy’ariyyah dengan ribuan santrinya, Yayasan Pendidikan Takhasus Al-Quran yang mengelola SMP dan SMA serta perguruan tinggi Universitas Sains dan Ilmu Al-Quran (UNSIQ) yang dulunya bernama Institut Ilmu Al-Quran (IIQ). Seorang tokoh kharismatik dan sangat mencintai Al-Quran.

Read More →

Charles Kao, ilmuwan yang memiliki peran penting dalam teknologi serat optik, akhirnya mendapatkan pengakuan dunia. Kao mendapatkan hadiah nobel dalam bidang Fisika.

Kao, ilmuwan kelahiran Shanghai, mendapatkan hadiah Nobel dalam bidang Fisika untuk ‘pencapaian yang luar biasa mengenai transmisi cahaya dalam serat komunikasi optik’. Penghargaan itu diterimanya bersama-sama (shared prize) dengan Willard Boyle dan George Smith.

Temuan Kao pada 1966 adalah menentukan cara mentransmisi cahaya pada jarak jauh menggunakan serat optik kaca ultra-murni. Temuan ini meningkatkan jangkauan hingga sekitar 99 kilometer dari sebelumnya hanya 19 meter.

hasil kopas dari detikInet.

Berikut kutipan dari situs detikSurabaya.com

Hari ini diprediksi sebagian besar warga di Tanah Air akan mengenakan batik. Sebab United Nations Educational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO)  menetapkan batik sebagai warisan budaya milik Indonesia, Jumat (2/10/2009).

Hari yang dinanti-nantikan ini pun dijadikan sebagai hari batik. Animo masyarakat menyambut hari batik ini tinggi. Sejumlah toko batik di Pasar Atum dan Pasar Grosir Surabaya (PGS) dibanjiri pembeli. Sebagian besar warga Surabaya akan merayakan pengukuhan batik itu dengan menggelar acara di tempatnya bekerja atau kampus masing-masing.

Rencananya, pengukuhan batik Indonesia oleh UNESCO akan dilakukan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Hal ini telah ditegaskan oleh Menteri Ad-Interim Kebudayaan dan Pariwisata, Mohammad Nuh yang ditemui di Departemen Kominfo, Rabu (30/9/2009) lalu.

“Pengukuhan batik Indonesia oleh UNESCO akan dilakukan kurang lebih pada pukul 20.00 WIB dan Presiden akan mendeklarasikannya secara resmi pada pukul 21.00 WIB” kata M Nuh.

Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk memakai batik pada 2 Oktober secara serentak. Hal ini dimaksudkan sebagai ungkapan rasa syukur atas prestasi serta anugerah yang telah diraih oleh bangsa Indonesia. Seruan ini pun langsung diikuti oleh para kepala daerah di Indonesia.

Proses pengukuhan batik Indonesia cukup panjang. Berawal pada 3 September 2008 yang kemudian diterima secara resmi oleh UNESCO pada tanggal 9 Januari 2009. Tahap selanjutnya adalah pengujian tertutup oleh UNESCO di Paris pada tanggal 11 hingga 14 Mei 2009.

Pakai batik rek!

Tapii….

Unnes tercinta kok adem ayem ya? tidak ada surat edaran, himbauan pun tiada berita…. Meskipun demikian banyak dijumpai rekan-rekan di Unnes yang pada hari ini menggunakan batik, tidak sedikit juga yang menggunakan kaos olahraga guna mengikuti senam aerobik.